Sunday, October 24, 2010

Srikandi Rabiah Al Adawiyah

Rabiah Al Adawiyah adalah seorang mistisi yang sangat tinggi darjatnya dan tergolong kelompok sufi periode awal. Ia memperkaya literatur Islam dengan kisah-kisah pengalaman mistiknya dalam sajak-sajak berkualitas tinggi.

Itu sebabnya Rabiah Al Adawiyah lebih dikenal sebagai pendiri agama cinta (mahabbah) dan ia pun dikenang sebagai ibu para sufi besar (The Mother of The Grand Master).

Beliau lebih dikenal dengan nama Rabiah Al Adawiyah,lahir pada tahun 713 M di Basrah (Irak), dari keluarga yang susah. Kedua orang tuanya meninggal ketika ia masih kecil. Begitu pula ketiga kakaknya, meninggal ketika wabah kelaparan melanda kota Basrah.

Dalam kesendirian itu, akhirnya Rabiah jatuh ke tangan orang yang kejam, yang lalu menjualnya sebagai budak belian dengan harga yang sangat murah. Majikan barunya pun tak kalah bengisnya dibandingkan dengan majiakn sebelumnya. Alhamdulillah dia akhirnya dibebaskan.

Setelah bebas, Rabiah pergi ke tempat-tempat sunyi untuk menjalani hidup dengan bermeditasi, dan akhirnya sampailah ia di sebuah gubuk dekat Basra. Disinilah ia hidup bertapa. Sebuah tikar, sebuah kendil dari tanah dan sebuah batu bata, adalah harta yang ia punyai dan teman dalam menjalani hidup kepertapaan.

Praktis sejak saat itu, seluruh hidupnya hanya ia abdikan pada Allah swt. Berdoa dan berdzzikir adalah hiasan hidupnya. Saking sibuknya mengurus akhirat, ia lalai dengan urusan duniawi, termasuk membangun rumah tangga. Meski banyak pinangan datang, termasuk dari gabenor Basra dan seorang suci mistis terkenal, Hasan Basri, Rabiah tetap tak tertarik untuk mengakhiri masa lajangnya. Hal ini ia jalani hingga akhir hayatnya pada tahun 801 M.

Dalam perjalanan kesufian Rabiah Al Adawiyah,kesendirian, kesunyian, kesakitan, hingga penderitaan tampak lumer jadi satu; ritme heroik menuju cinta kepada Sang Ada (The ultimate being). Tak heran jika ia 杜erendahkan manusia・dan mengabdi pada dorongan untuk meraih kesempurnaan tertinggi.
Ia jelajahi ranah mistik, yang jadi wilayah dalam dari agama, hingga mendapatkan eloknya cinta yang tidak dialami oleh kaum Muslim formal.

Menjadi sufi bagi Rabiah Al Adawiyah adalah terlalu dari sekedar Ada menjadi Benar-benar Ada・ Karena sedemikian dalamnya cintanya pada Allah, Rabiah Al Adawiyah sampai tidak menyisakan sejengkal pun rasa cintanya pada manusia. Syufyan Tsauri,s eorang sufi yang hidup semasa dengannya,s empat terheran-heran dengan sikap Rabiah. Pasalnya, Sufyah pernah melihat sendiri bagaimana Rabiah Al Adawiyah menolak cinta seorang pangeran yang kaya raya demi cintanya pada Allah. Dia tidak tergoda dengan kenikmatan duniawi, apalagi harta.

Cinta Rabiah tak dapat disebut sebagai cinta yang mengharap balasan. Justru, yang dia tempuh adalah perjalan mencapai ketulusan. Sesuatu yang diangap sebagai ladang subur bagi pemuas rasa cintanya yang luas, dan sering tak terkendali tersebut. Lewat sebuah doa yagn mirip syair, ia berujar:
tuhanku. Jika aku menyembahMu karena takut pada api neraka, maka masukkan aku di dalamnya! Dan jika aku menyembahMu karena tamak kepada surgaMu, maka haramkanlah aku daripadanya! Tetapi jika aku menyembahMu karean kecintaanku kepadaMu, maka berilah aku kesempatan untuk melihat wajahMu yagn Maha Besar dan Maha Mulia itu.・/b>

Kendati demikianm, pengalaman Rabiah adalah pengalaman orang suci aygn sulit ditiru oleh awam. Memahami Rabiah Al Adawiyah sangat sulit. Seperti masa hidupnya, Rabiah tampaknya jauh dari kita. Selain itu, kesempurnaan yang mnyertainya tak mungkin dapat ditandingi oleh orang-orang biasa.

Apa yang dilakukan Rabiah dalam hidupnya sebetulnya adalah ikhtiar untuk membiasakan diri Bertemu・dengan pencipta-Nya. Di situlah ia memperoleh kehangatan, kesyahduan, kepastian dan kesejatian hidup. Karena itu menjadi pemuja Tuhan adalah obsesi Rabiah Al Adawiyah yang tidak pernah mengenal tepi dan batas. Tak heran jika dunia yagn digaulinya bebas dari perasaan benci. Seluruh hidupnya telah diberikan untuk sebuah cinta.

Rabiah Al Adawiyah wafat dengan meninggalakmn pengalaman sufistik yang tak terhingga artinya. Hikmah yagn ditinggalkan sangat berharga dan patut kita gali sebagai makrifat hidup. Menarik kita simak salah satu doa Rabiah yang dipanjatkan pada waktu larut malam, di atas atap rumahnya:

oh Tuhanku, bintang-bintang bersinar gemerlapan, manusia telah tidur nyenyak, dan raja-raja telah menutup pintunya. Tiap orang yang bercinta sedang asyik-masyguk dengan kesayangannya, dan disinilah aku sendirian bersama Engkau.・

0 comments: